BUIH PADA GELOMBANG (1)
Buih adalah buih
Dan gelombang adalah gelombang
Dua-duanya menjadi kisah laut
Sedih adalah sedih
Dan senang adalah senang
Dua-duanya adalah dua yang bertaut
Menarilah buih cantik
Jangan berbalik
Menarilah gelombang senja
Melukis pada kanvas jiwa dengan kuas cinta
Meski lukisannya hanya akan menjadi bunga
Dan bunganya hanya menjadi kenangan saja
Jangan pernah bosan membaca kisahnya
Dan biarlah rahasia tetap menjadi rahasia
201707140105 Kotabaru Karawang
BUIH PADA GELOMBANG (2)
Dititipkannya sunyi kepada buih
Yang lekat tanpa perekat pada gelombang
Menari semua buih sunyi dalam lagu sedih
Dan gelombang tetap mengalun tenang
Ini kali kesekian layar terkembang
Kemudi kekar kompas jelas tujuan menantang
Bintang utara bintang selatan terang
Daratan dari pandangan hilang
Selain lautan tak ada yang dipandang
Tak ada ragu tak ada bimbang
Gelombang dan buih mencium pantai kembali
Membawa rindu nakhoda dan cinta kelasi
Kuas kembali memulas
Akankah berbekas
201801072159 Kotabaru Karawang
BUIH PADA GELOMBANG (3)
Angin lembut di pelabuhan sauh dibongkar layar terkembang
Nakhoda dan kelasi tersenyum penuh arti kini saling pandang
Telah tiba saatnya mata menatap laut lepas yang menantang
Dermaga sunyi tempat menanti segera ditinggal di belakang
Perjalanan yang akan dan harus dibaca sudah lama direntang
Meski bukan satu buih akan tetap menari bersama gelombang
Buih genit gelombang pemalu sama pecah di pantai garang
Biduk dan pari di langit hitam bicara tentang arah yang jelas
Mercu suar mengirim pesan cahaya tentang dangkal yang ganas
Jangan mendekat dan jangan terpukau jangan atau kapal kandas
Tangan nakhoda kekar mengunci kemudi telahjelas arah kompas
Kesanalah nakhoda dan kelasi menuju dengan harap-harap cemas
Dermaga sunyi telah jauh ditinggal kapal jangan lagi terhempas
Kenangan manis dan pahitnya torehkan semua pada lembaran kertas
201802162253 Kotabaru Karawang
BUIH PADA GELOMBANG (4)
aku memeluk sunyi yang kulihat pada gemericik buih mencium pasir
dan pada helai daun cemara jarum kering yang melayang jatuh
aku bisikkan pertanyaan padamu kapan sunyi ini akan berakhir
dan kau bisikkan jawaban padaku nanti setelah tiada lagi dekat dan jauh
aku memeluk sunyi yang kulihat pada alun lembut mengayun sampan
dan pada caping usang yang setia menutup wajah lapar tangan menengadah
aku bisikkan pertanyaan padamu rindu atau cintakah yang jadi rajutan kenangan
dan kau bisikkan jawaban padaku nanti setelah tiada lagi resah dan gelisah
aku memeluk sunyi yang kulihat pada pokok rumbia terendam air payau kuala
dan pasir halus yang menempel pada betis gadis kecil bersila tanpa alas
aku bisikkan pertanyaan cinta atau rindukah yang menyalakan api cemburu dalam dada
dan kau bisikkan jawaban padaku mengapa pertanyaan muncul seperti tak punya batas
ketika aku diam sunyiku tambah mencekik
ketika aku bertanya sunyiku tambah mencabik
aku cinta tapi mengapa dada jadi terusik
aku rindu bayangan sendiri pada cermin yang terbalik
201903201238_Kotabaru_Karawang
BUIH PADA GELOMBANG (5)
Gadis buih pecah merintih di hamparan pasir
Hilang tarian hilang nyanyian
Gadis buih menangis menyesal melepas pikir
Membawa banyak rasa yang menyimpan penyesalan
Gelombang melukis biru hitam bayangan langit
Lukisannya pada kanvas adalah buah-buah pahit
Buih pada gelombang merenda bait-bait sakit
Ini jalan telah jadi tak bisa mundur
Rasa tanpa pikir berjalan tak bisa diukur
Berdirilah dengan tegar atau menunduk hancur
Gadis buih menimang meraba perut
Seribu harapan berubah menjadi seribu takut
Gelombang kembali membelai menimang alun
Menghempas keras mengalun lembut mengayun
201908081213_Kotabaru_Karawang
BUIH PADA GELOMBANG (6)
Aku selalu ingin bercerita padamu semua tentang laut
Tentang gelombang tentang alun dan tentang buih
Tentang angin lembut dan badai yang mendatangkan takut
Tentang bongkar sauh layar terkembang yang menorehkan sedih
Ada ujung dan ada tanjung ada teluk dan ada pantai
Di ujung aku tenggelam bimbang di tanjung aku termenung
Dan hanya jika tiba di dermaga meski sunyi aku merasa lega
Jika sampai dermaga aku terpana oleh pucuk cemara melambai
Kokoh kuat tegak tegar meski diterjang ombak menggulung
Tinggal kenangan di dermaga engkau menunggu dengan cinta
Di bebatuan pantai di gemericik buih aku duduk sendiri
Kisah lautku untukmu kembali ke lubuk hati yang sunyi
Engkau berlayar meninggalkan aku dalam pelukan nakhoda
Dan aku menyimpan sedih duka dan kecewa dalam sesak dada
202007030849 Kotabaru Karawang
Telah tiba saatnya mata menatap laut lepas yang menantang
Dermaga sunyi tempat menanti segera ditinggal di belakang
Perjalanan yang akan dan harus dibaca sudah lama direntang
Meski bukan satu buih akan tetap menari bersama gelombang
Buih genit gelombang pemalu sama pecah di pantai garang
Biduk dan pari di langit hitam bicara tentang arah yang jelas
Mercu suar mengirim pesan cahaya tentang dangkal yang ganas
Jangan mendekat dan jangan terpukau jangan atau kapal kandas
Tangan nakhoda kekar mengunci kemudi telahjelas arah kompas
Kesanalah nakhoda dan kelasi menuju dengan harap-harap cemas
Dermaga sunyi telah jauh ditinggal kapal jangan lagi terhempas
Kenangan manis dan pahitnya torehkan semua pada lembaran kertas
201802162253 Kotabaru Karawang
BUIH PADA GELOMBANG (4)
aku memeluk sunyi yang kulihat pada gemericik buih mencium pasir
dan pada helai daun cemara jarum kering yang melayang jatuh
aku bisikkan pertanyaan padamu kapan sunyi ini akan berakhir
dan kau bisikkan jawaban padaku nanti setelah tiada lagi dekat dan jauh
aku memeluk sunyi yang kulihat pada alun lembut mengayun sampan
dan pada caping usang yang setia menutup wajah lapar tangan menengadah
aku bisikkan pertanyaan padamu rindu atau cintakah yang jadi rajutan kenangan
dan kau bisikkan jawaban padaku nanti setelah tiada lagi resah dan gelisah
aku memeluk sunyi yang kulihat pada pokok rumbia terendam air payau kuala
dan pasir halus yang menempel pada betis gadis kecil bersila tanpa alas
aku bisikkan pertanyaan cinta atau rindukah yang menyalakan api cemburu dalam dada
dan kau bisikkan jawaban padaku mengapa pertanyaan muncul seperti tak punya batas
ketika aku diam sunyiku tambah mencekik
ketika aku bertanya sunyiku tambah mencabik
aku cinta tapi mengapa dada jadi terusik
aku rindu bayangan sendiri pada cermin yang terbalik
201903201238_Kotabaru_Karawang
BUIH PADA GELOMBANG (5)
Gadis buih pecah merintih di hamparan pasir
Hilang tarian hilang nyanyian
Gadis buih menangis menyesal melepas pikir
Membawa banyak rasa yang menyimpan penyesalan
Gelombang melukis biru hitam bayangan langit
Lukisannya pada kanvas adalah buah-buah pahit
Buih pada gelombang merenda bait-bait sakit
Ini jalan telah jadi tak bisa mundur
Rasa tanpa pikir berjalan tak bisa diukur
Berdirilah dengan tegar atau menunduk hancur
Gadis buih menimang meraba perut
Seribu harapan berubah menjadi seribu takut
Gelombang kembali membelai menimang alun
Menghempas keras mengalun lembut mengayun
201908081213_Kotabaru_Karawang
BUIH PADA GELOMBANG (6)
Aku selalu ingin bercerita padamu semua tentang laut
Tentang gelombang tentang alun dan tentang buih
Tentang angin lembut dan badai yang mendatangkan takut
Tentang bongkar sauh layar terkembang yang menorehkan sedih
Ada ujung dan ada tanjung ada teluk dan ada pantai
Di ujung aku tenggelam bimbang di tanjung aku termenung
Dan hanya jika tiba di dermaga meski sunyi aku merasa lega
Jika sampai dermaga aku terpana oleh pucuk cemara melambai
Kokoh kuat tegak tegar meski diterjang ombak menggulung
Tinggal kenangan di dermaga engkau menunggu dengan cinta
Di bebatuan pantai di gemericik buih aku duduk sendiri
Kisah lautku untukmu kembali ke lubuk hati yang sunyi
Engkau berlayar meninggalkan aku dalam pelukan nakhoda
Dan aku menyimpan sedih duka dan kecewa dalam sesak dada
202007030849 Kotabaru Karawang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar